Jumat, 27 Januari 2012

Momoye, Mereka Memanggilku

Penulis  : Eka Hindra & Koichi Kimura

Editor    : Esthi Damayanti & Theresia Vini S.
ISBN-13 9789790152199
Penerbit : Esensi
Harga    : Rp  47.000

Darah segar yang membasahi dipan dan lantai aku bersihkan dengan tangan gemetar. Pedih rasanya melihat darah itu, terbayang terus muka laki-laki brewok yang pertama menghancurkan hidupku.

Rasanya mereka itu tidak membutuhkan perempuan, yang mereka butuhkan sebetulnya hanya lubang kemaluan perempuan.

Pagi dini hari tahun 1993. Bagi orang lain, mungkin hanya sekedar satu lagi hari berlalu. Tapi tidak bagi  Mardiyem! Setelah sekian lama meredam rasa sakit hati,  terbuka sebuah jalan untuk mengeluarkan segala rasa. Koran Bernas memberitakan; “semua korban tentara Jepang perlu dicari.” Seketika itu juga tanpa membaca tuntas berita, Mardiyem pergi ke LBH Yogya untuk mengadukan nasibnya. Kisah masa lalu yang selama ini disimpannya rapat-rapat.

Sejak lama ia ingin menyampaikan tuntutannya kepada pemerintah Jepang. Hidupnya porak-poranda akibat kelakuan biadab Jepang saat perang. Bagaimana tidak! Awalnya ia bercita-cita menjadi seorang pemain sandiwara. Tipu daya seseorang membuatnya terdampar di Taliwang dan menjadi  “rasum Jepang” atau Jugun Ianfu. “Semenjak itu aku harus menerima kenyataan dipaksa melayani 10-15 orang setiap hari…. Bagaimana mungkin  aku yang waktu itu baru berusia 13 tahun menjadi pelacur, datang bulan saja belum pernah. “  Sungguh mengenaskan nasib Mardiyem. Disaat  teman seusianya masih sibuk menata hidup, asyik mempercantik diri dan bersuka cita, Mardiyem justru harus menerima tubuhnya di raba-raba dengan kasar, khawatir menderita penyakit kelamin dan hamil! 

Banyak cara yang dilakukan oleh pihak Jepang untuk merekrut Jugun Ianfu. .Dengan  menggunakan cara halus seperti dijanjikan sekolah gratis, pekerjaan sebagai pemain sandiwara, pekerja rumah tangga, pelayan rumah makan. Ada juga jmenggunakan  cara kasar,  menteror disertai tindak kekerasan, menculik bahkan memperkosa di depan keluarga.


Di Taliwang, Mardiyem mendapat nama Momoye. Ia dan beberapa kawannya ditempatkan dalam kamar yang terpisah dan diberi namor serta nama di depan pintu. Ada petugas yang mengatur arus datang dan perginya tamu. Mereka dipaksa melayani kebutuhan arus bawah   Jepang tanpa perduli bagaimana kondisi mereka.  Mardiyem bahkan harus melayani sekian tamu saat baru saja mengalami pengalaman mengerikan, keperawanan yang selama ini dijaga direngut sembarang oleh seorang prajurit brewok. Ia bahkan menderita pendarahan hebat! Belum mendapatkan haid sudah diperkosa berkali-kali! Saya tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Mardiyem saat itu.

Perlakuan para tamu juga bermacam-macam  bisa  dilihat dari jam kedatangan. Jam 12.00-17.00 khusus untuk serdadu pangkat rendah dengan karcis 2,5 yen, sore jam 17.00-24.00 khusus untuk orang sipil dengan karcis 3,5 yen. Mulai pukul 24 hingga pagi bisnya digunakan oleh serdadu berpangkat perwira dan dikenakan karcis seharga 12,5. Lalu kapan mereka beristirahat jiak setiap saat harus menerima tamu?

Beberapa memang memperlakukan Mardiyem dengan baik,  mau mengajak bercakap-cakap, memberikan uang sekedar yang dikumpulkan Mardiyem untuk  dikirimkan kekakaknya. Mereka memahami bahwa bukan keinginan Mardiyem dan teman-temannya berada di sana, apa yang dilakukan Jepang adalah sebuah kesalahan. Hanya saja  mereka tak bisa berbuat apa-apa karena untuk urusan arus bawah mereka tetap membutuhkan Mardiyem sebagai pelampiasan.


Jangan ditanya bagaimana kehidupan mereka saat itu! Jangankan penduduk sekitar yang kerap mencemooh dan tak mau menolong karena takut pada Jepang, bahkan para wanita nakal yang ada disekitar juga menganggap Mardiyem dan teman-temannya adalah saingan yang harus diwaspadai. Saat seorang dari mereka meninggal, bahkan pihak Jepang pun semula tak mau menguburkan dengan layak. hanya karena seluruh penghuni asrama ramai-ramai mengajukan keberatannya akhirnya yang meninggal dapat dikubur dengan layak.